My OFFICIAL WEBSITE

Masa blog ini telah berakhir. Postingan selanjutnya dan segala info silahkan ke www.laurakhalida.com

Mari BELAJAR MENULIS dan MEMBUAT BUKU ANDA Sendiri…

Haloo-haloooo…. LK’s Creative Studio kini membuka Writing Class.

Paket yang ditawarkan adalah:

1. Belajar menulis 4x pertemuan seminggu sekali (@2jam). Bergrup (2-5 orang). Pertemuan bisa diatur di mall (foodcourt) atau di rumah peserta (bawa laptop masing-masing) Materinya menulis secara umum. Biayanya Rp. 800.000/orang (untuk 4x pertemuan) Yang mendaftar dalam minggu ini akan mendapatkan POTONGAN HARGA 10%!!!

Nanti bila sudah mendapatkan materi menulis secara umum dan ingin meneruskan, bisa melanjutkan dengan penjurusan (pilih):

– Fiksi (novel, cerpen)

– NonFiksi

-Jurnalistik

-Editor

2. Bimbingan membuat buku hingga selesai. Banyak orang ingin bisa menuangkan isi pikirannya ke dalam buku, dengan tujuan berbagi ilmu, berdakwah, kepuasan pribadi, penunjang porfolionya, dll, namun kesulitan menuangkannya dalam tulisan. Saya akan membimbing Anda membuat buku hingga selesai. Harga disesuaikan dengan tebal buku dan lama waktu pengerjaan.

Kami juga menyediakan layanan editing, lay out, disain cover, ilustrasi, hingga menjadi dummy (dalam bentuk cd) yang bisa langsung dibawa ke percetakan. Atau bisa pula mencetak via kami. Maka, impian Anda untuk menerbitkan buku sendiri atau istilah kerennya nih: Self Publishing, akan menjadi nyata.

3. Online Writing Class (privat) dengan paket:

– Seminggu sekali chat atau call, dengan durasi 1 jam, kemudian setor karya untuk diperiksa, biayanya Rp. 500.000 selama sebulan

– Seminggu dua kali chat atau call dengan durasi 1 jam, kemudian setor karya untuk diperiksa. Biayanya Rp. 1.000.000 selama sebulan.

Nanti dievaluasi apakah selama sebulan itu merasa cukup. Kalau belum cukup, bisa tambah sebulan lagi, dst. Materi yang diberikan sesuai kebutuhan dan minat.

Saya tidak akan membebani dengan teori menulis yang njelimet dan bikin pusing, karena kebisaan menulis diasah oleh praktik, action. Seperti saya yang diasah oleh jam terbang dalam menulis. Untuk mengetahui detail karya saya dan hasil editan (sunting) saya, bisa dilihat melalui website ini dan  linkedin http://id.linkedin.com/in/laurakhalida

Ayo tunggu apalagi, wujudkan impianmu untuk bisa menulis atau membuat buku sendiri! Yang berminat bisa japri ke e-mail laura.pro76@gmail.com atau 021 94554936

Terima kasih atas perhatiannya.

ONLINE WRITING CLASS

Finally, yang dinanti-nanti tiba. Saya membuka kelas menulis online!!!
Sistem belajarnya dengan menyetorkan karya (fiksi/nonfiksi/jurnalistik, sesuai minat dan kebutuhan) kemudian saya bedah.
Selain itu ada chat (YM/whats app) dan konsultasi via telepon dengan durasi satu jam seminggu sekali atau dua kali (tergantung paketnya)

Yang berminat, silahkan e-mail saya di laura.pro76@gmail.com nanti saya jabarkan keterangan lebih lanjut sistem dan paketnya.

Ditunggu ya, terima kasih.

Mengapa Ditolak?

Memang sakit ditolak. Rasanya dunia berhenti berputar dan diri nelangsa kuadrat. Lebayyy deh reaksi kita kala ditolak media atau penerbit. Lebih parah lagi jadi putus asa dan nggak mau menulis lagi, alias stop sampai di situ. Pernah ngalamin? Saya pernah! hehehe.

Ya pernahlah merasa nggak berbakat menulis begitu cerpen saya ditolak media. Cuma karena waktu itu saya bergabung dengan FLP (Forum Lingkar Pena) Jakarta, saya sering disemangatin penulis-penulis senior, di antaranya Teh Pipiet Senja. Huaaa beliau motivator saya banget. Ketika saya curhat karya saya ditolak aja, dia bilang,”Cemen ah, baru ditolak juga.” jleb!

Akhirnya saya termotivasi lagi dan mengirim lagi karya-karya saya ke media. Beberapa editor penerbit mengatakan, mereka lebih leluasa menyampaikan penolakan kepada penulis besar, ketimbang penulis pemula. Sebab, penulis besar kalau ditolak, menanggapinya dengan santai, kalau penulis pemula bisa down dan drop banget semangatnya.

Siapa bilang penulis besar atau yang sudah punya ‘nama’ nggak pernah ditolak? pernah lagi. Dan, perlu diketahui, ditolak belum berarti karyamu buruk, tapi bisa jadi iya, hehe. Maksudnya, penolakan bisa karena beberapa faktor:

1. Memang karyanya belum layak terbit, ini bisa diakibatkan beberapa hal, ceritanya basi/klise, cara penulisannya masih amburadul, sehingga bikin males editor baca, cerita nggak fokus, dan masalah teknis lainnya.

2. Karyanya bagus tetapi melawan selera pasar. Nah, kalau ini tergantung penerbitnya, apakah berani mengambil resiko atau tidak. Sebab, bisa jadi malah meledak di pasaran karena karya tersebut berbeda.

3. Tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit. Misalnya saja mengirim cerita Islami ke penerbit yang fokus pada karya umum, jelas tidak masuk prioritas mereka. Itu sebabnya sebelum mengirimkan karya ke media atau penerbit, selidiki dulu media/penerbit yang bersangkutan, seperti apa naskah-naskah yang diterima mereka.

4. Mengandung hal berbau pornografi dan SARA. ini sebenarnya tergantung penerbitnya juga. Ada penerbit yang mau menerbitkan naskah yang rada vulgar, tetapi kalau SARA mungkin harus berhati-hati, kecuali memang sengaja menarik perhatian (biar laku), namun harus berani menanggung resikonya.

5. Waktunya tidak pas. Misalnya kamu mengirim naskah berbau valentine pada bulan April, jelas sudah tidak aktual. Kecuali penerbit/media tersebut mau menundanya hingga Februari tahun mendatang. Tetapi ini pun beresiko, naskah tersebut isinya sudah tidak up to date.

Nah, jelas ya beberapa alasan media/penerbit menolak karyamu. Jangan putus asa. JK Rowling sebelum booming dengan Harry Potternya sudah ditolak banyak penerbit, tepi lihat sekarang kayak apa?

Maka, sebelum mengirim naskah, sebaiknya perhatikan teknis penulisan. Jangan sampai editor/redaksi sudah malas duluan membacanya. Contoh, waktu saya menjadi redaktur majalah dan menerima naskah-naskah fiksi, masih banyak yang mengirim tanpa dijilid atau steples. Bacanya saja sudah ngeri berceceran itu naskah, dan merepotkan sekali kalau harus kita yang steples. Pliss deh cyynnn….

Untuk pedoman mengirim naskah ke media/penerbit akan saya bahas dalam tulisan lain, nanti. So, ditolak? sante aje… kirim lagi.

sumber gambar:http://1.bp.blogspot.com/-sb7V30sfw4Q/Tb_8cqfxYHI/AAAAAAAAAQs/Mtgfr-Vjvyk/s1600/bnb.jpg

Peluruhan Ego Sang Ghost Writer

Namanya juga Ghost Writer (GW), artinya kita membantu menuliskan buku bagi orang lain. Alasannya macam-macam, mungkin karena dia sibuk dan nggak punya waktu menulis, malas repot, atau memang tidak bisa menulis. Nah, lahan rezeki, kan?

Sebetulnya saya sendiri nggak sengaja terjun menjadi GW atau Co. Writer ini. Kenapa saya lebih suka mengartikannya sebagai Co. Writer? sebab, si narasumber tetap memiliki peran penting. Tugas GW kan hanya menuliskan dan menambahkan referensi apabila diperlukan, sementara bahan utama tetap dari si narasumber.

Tahapannya tuh biasanya:

1. Meeting dengan penerbit atau narasumber langsung. Pokoke yang menyerahkan job tersebut. Dibicarakan naskah apa yang mau ditulis, tentang apa, bagaimana konsep dan draftnya.

2. Pengumpulan material/bahan tulisan. Ini bisa dengan wawancara langsung dengan narasumber utama dan narasumber tambahan, misalnya waktu saya membantu buat buku bertema lingkungan hidup, saya wawancara via telepon dengan Nugie dan mantan penyanyi cilik Tasya. Lalu selain wawancara bisa tanya-tanya Mbah Google atau literatur buku.

3. Penyusunan naskah/buku, sesuai draft yang ditentukan. Ikuti alur yang ditetapkan penerbit atau narasumber.

4. Tahap revisi. Setelah jadi, GW menyerahkan naskah dan diperiksa. Apabila masih ada ketidaksesuaian yang revisi. Dalam masa ini biasanya frekuensi pertemuan GW dengan narasumber bisa besar porsinya. Nongkrong di rumahnya, atau ngafe bareng, bahkan saya pernah bekerja di ruang opname rumah sakit karena narasumber saya sakit, namun semangatnya pantang padam. Tapi pernah juga narasumber saya dari luar kota, komunikasi kami hanya via telepon dan e-mail, Alhamdulillah lancar jaya.

5. Editing. GW juga perlu melakukan ini, meskipun nantinya penerbit lebih mendominasi.

Nah, yang jelas sih, sebagai GW kita emang nggak boleh ego atau idealis. Kalau nggak suka dengan topiknya atau nggak sesuai dengan nurani, tolak aja dari awal, ketimbang mengerjakannya dengan tertekan. Kalau masalah penguasaan bahan, itu bisa dipelajari. Tapi tentunya menyesuaikan juga dengan kemampuan dan wawasan GW. Kalau merasa ketinggian materialnya, yah lebih baik menolak, ketimbang hasilnya nggak maksimal.

Karena GW tugasnya membantu menuliskan, dia harus patuh pada prosedur dari penerbit dan narasumber. Tetapi pengalaman saya, mereka biasanya open terhadap masukan dan ide dari saya. Adanya jadi saling kombinasi. Tetapi tetaaaap, toleransi seorang GW harus tinggi andaikata idenya ditolak atau hanya diterima sebagaian. Maklum aja kan bukan buku sendiri. ya toh? Nggak seru juga kan kalau GW jadi adu ngotot dengan narasumber, hehehe…

Dan yang paling penting, komunikasi seorang GW dengan narasumber atau penerbit harus insten. Kalau narasumber mudah dihubungi sih enak, walaupun sibuk, dia selalu balas SMS kita dan kasih keterangan. Saya pernah hampir bekerja sama dengan seorang presenter TV top,  namun sayang sulit diajak berkomunikasi. SMS, telp, BBM, bakan twitter hampir nggak pernah balas. Diajak ketemuan saja sulitnya minta ampun, niat nggak sih buat buku hehehe. Proyek itu sampai menggantung setahun, begitu lanjut, teteuupp tidak ada kejelasan, ya wis… belom rezeki.

Nggak hanya GW, sebagai editor content, juga harus saling menyesuaikan. Saya sampai nginap-nginap tempat klien demi kelancaran pekerjaan, pernah juga diajak ke villanya di Cianjur, waktu itu oleh Bu Emmylia Hannig, sekarang beliau mengikuti tugas suaminya (berkebangsaan Jerman) yang pindah-pindah di LN, asyiknyaaa…

sumber gambar:http://www.roughcutreviews.com/news_story.php?id=580&title=German+poster+for+’The+Ghost+Writer’+starring+Ewan+McGregor

Awal Mula Menjadi Editor

Dahulu kalaaaa, waktu saya masih jadi penulis, pernah berandai-andai, kayak apa yah rasanya jadi editor. Eh… kesampaian. Ceritanya suatu ketika saya kirim naskah novel ke Mizan Group (Hikmah Publishing). Naskah itu sudah melewati 4 penerbit dan belum rezeki terbit. Waktu itu saya idealis, ada penerbit yang bilang konfliknya kurang tajam, secaraaa emang itu novel ringan, tentang seorang tante dengan delapan keponakan (kebayang hebohnya), tapi ada nilai-nilai entrepreneurship, relationship, dan love di sana *ciyeee*

Singkat cerita, saya kirim ke Hikmah eh, lolos. Malah sejak itu saya jadi editor freelance mereka. Khususnya merombak naskah ya, jadi istilah kwerennya sih “Editor Content”. Waktu itu editor senior Hikmah bilang, kelebihan novel saya itu adalah meramu dialog banyak tokoh dengan ciamik *hem*, lalu ada beberapa novel yang saya edit, diperbaiki gaya bahasanya, dialognya, dan sebagainya. Malah salah satunya kepilih disinetronkan. Tokoh itu awalnya tak berjilbab, sampai dijilbabin, lumayan ribet juga hihi.

Sejak itu saya suiiiibuk menjadi editor content, naskah fiksi dan nonfiksi. Bahkan merambah mengedit naskah penulis-penulis yang ingin menerbitkan sendiri buku mereka (indie publishing), bahkan buku untuk hadiah ultah perkawinan.

That’s why salah satu alasan saya mendirikan LK’s (elkeys) Creative Studio ini, untuk merangkul pula teman-teman yang berbakat bersatu padu menjadi tim yang solid, Insya Allah.


sumber gambar:http://wulanwahyuning.blogspot.com/2010/10/edit-naskah.html

Susahkah Jadi Reporter?

Asal kamu suka! Kenapa saya katakan demikian? Sebab, kalau sudah suka, maka apa pun tantangannya akan ditempuh. Apa pun masalahnya, akan dicarikan solusi. Sekarang, susahnya di mana? Bahan wawancara? sok atuh kuasai dulu latar belakang masalahnya. Dalam setiap rapat redaksi akan dibahas topik apa yang akan dimuat di edisi mendatang, lalu ditentukan siapa tokoh yang diwawancara dan menugaskan reporter untuk mewawancarainya.

Misalnya sudah dapat di tangan, harus wawancara tokoh A . Tentu saja harus mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Paling tidak ketika wawancara, kita sudah tahu latar belakang  tokoh A, jadi sudah tahu mau bertanya apa. Sebelum wawancara buatlah poin-poinnya, apa yang akan ditanyakan, nanti di lapangan tinggal mengembangkan.

Demikian pula bila mendapatkan tugas untuk wawancara soal go green, riset dulu soal perkembangan go green saat ini, supaya pas wawancara nggak cengok dan bengong.

Tetapi saya pernah menjadi reporter sebuah majalah yang bergerak di bidang energi. Kebayang nggak sih, kuliah jurusan Hubungan Masyarakat, nggak nyambung sama sekali dengan persoalan minyak, gas, konstruksi, lepas pantai. Hadoooh… awalnya ya ragu, tetapi mereka percaya saya, kok ya saya nggak percaya diri? Masalah bahan kan bisa didalami seraya riset. Kenapa ya, mereka mau merekrut saya, bukannya mereka yang berlatar belakang teknik misalnya? sebab, mereka kesulitan mencari orang yang bisa wawancara dan menulis! So, how lucky I am punya skill itu!

Setiap akan wawancara perut saya mules hihihi, bagaimana nggak? sudah topiknya berat, yang diwawancara pun big bossbig boss perusahaan multinasional, yang super suibukkk dan seolah waktu hanya milik mereka. Karena bisa setiap saat mereka nggak ada di tempat, atau sudah ada planning ke Amerika, dan sebagainya.

Deg-degan lah, takut ketawan bloonnya. Makanya sebelum wawancara saya pelajari tuh topiknya, cari bahannya, minta sama redaksi atau cari di internet. Misalnya tentang gas, nuklir, minyak, pengadaan barang (procurement), huaaa topik-topik yang nggak pernah saya sentuh. Tapi… Alhamdulillah lancar tuh. Dan, saya memilih jujur, apa adanya, kalau nggak ngerti bilang nggak ngerti, nggak mau sok tahu. Malah dapat simpati, kapan lagi bos-bos gede itu presentasi di depan saya? hihihi… demi saya menguasai bahan dan bisa wawancara dengan lancar.

Paling susahnya jadi reporter di Jakarta nih apa? Maceeettt boww… itu aja yang nggak nahanin. Apalagi kalau sudah melintasi kawasan Mampang, Buncit, motor saja berhenti!

Selain itu sih, nggak ada yang susah karena semua bisa dipelajari, asal mau dan tekun. Dan sepertinya profesi reporter ini termasuk profesi yang cukup membanggakan ya, entah kenapa dari dulu kalau saya kenalan sama orang dan menyebut diri saya itu seorang reporter, kebanyakan berdecak kagum. Jadi, kenapa ragu-ragu untuk menjadi seorang reporter?

Sumber gambar: http://rezarh.wordpress.com/category/reporter/

Mengatasi Kemacetan Menulis

 

 

Bukan hanya lalu lintas saja yang bisa macet, menulis pun bisa! bisa banget!!!

Nggak hanya penulis pemula, yang sudah senior pun kerap mengalami kemandegan atau kemacetan dalam menulis. Wajar lah ya, apalagi kalau kesehariannya berkutat depan laptoooopp aja. Bahkan melihat laptop rasanya sudah mual, saking enegnya, ingat kerjaan. Nah… ini mah kalau UUD (ujung-ujungnya duit) pasti bakalan ngalamin ini hihihi *pengalaman pribadiiih, hem*.

Tetapi kalau menulis merupakan passionmu dan tetaaap diupayakan menulis dengan cintaaaah, Insya Allah nggak eneg melihat laptop.

Wokeh, sekarang kembali ke laptoop, eh maksudnya ke topik semula. Bagaimana kalau mengalami kemacetan menulis? Sebelumnya, saya jabarkan dulu penyebab kemacetan dalam menulis:

1. Nggak menguasai bahan tulisan dan malas riset

2. Ada masalah pribadi dan belum bisa bersikap profesional (memisahkan masalah dengan pekerjaan)

3. BIG M alias malaasss buangeeet deh

Biasanya sih itulah penyebab utama kemacetan dalam menulsi. Nah, sekarang bagaimana mengatasinya? sok atuh simak lagi:

1. Kalau memang belum menguasai bahan tulisan atau kurang bahan, ya mau nggak mau riset atuh. Zaman sekarang serba   canggih gitu loh, nggak harus beli literatur tapi bisa pinjam buku, internet, atau wawancara orang yang lebih tahu. Contoh, ketika saya membuat novel dengan setting di Prancis, so pasti harus ada spiking-spiking prancisnya atuh, biar nggak sekadar setting tempelan. Walaupun saya pernah kursus di CCF setahun, sudah ke laut itu Bahasa Prancis. Akhirnya saya e-mail teman Indonesia yang menikah dengan orang Prancis dan tinggal di Paris, saya minta tolong dia menerjemahkan beberapa dialog yang saya tulis dalam Bahasa Indonesia ke Bahasa Prancis.

2. Kalau memang ada masalah, coba diselesaikan dulu masalahnya, supaya tidak menganggu pekerjaan. Atau cari cara untuk bisa memisahkan masalahmu dengan pekerjaan. Ini mungkin caranya bisa beda-beda tiap orang ya, mungkin ada yang butuh refreshing sejenak, liburan untuk merefreshkan pikiran, mungkin kudu curhat sama seseorang, atau katarsis dulu gih, biar enakan. Kalau yang dibuat buku sendiri sih ya tanggung jawab sendiri ya, kalau nggak memenuhi deadline. Tapi kalau sudah masuk lahan industri, huwayooo inilah tantangannya untuk kita bersikap profesional!

3. Hmmpphh… untuk BIG M ini, yaaaa… sebenarnya sih ini alasan saja! Hayooo kamu bisa kok memotivasi dirimu untuk bangkit, Kalau nggak bisa yaaa.. resiko tanggung sendiri.

4. Untuk merefreshkan pikiran, saya bertanya dulu pada diri sendiri, apa sih yang buat mandeg? oohh ternyata saya nggak percaya diri dengan gaya bahasa yang biasa saya gunakan, trus pengen tahu apa ya tren gaya penulisan sekarang? ya wis… saya ke toko buku, beli beberapa novel (kalau lagi menggarap proyek fiksi atau bergaya novel) dan baca-baca deh. Belinya karya penulis best seller atau yang jadi sorotan, supaya tahu kelebihannya.

5. Memang pekerjaan kreatif seperti menulis ini dipengaruhi mood. Tetapi ada kalanya kita nggak boleh kalah sama si mood yang suka sembarangan datang dan pergi. Pada saat kita sudah terjun ke lahan industri dan ditenggat deadline, mau nggak mau, kita harus bisa menyeret mood kembali datang.

Bagaimana? semoga bermanfaat dan bisa mengatasi kemacetanmu dalam menulis ya. Good luck!

Mulailah dari Cerpen

Dulu saya mengawali karier menulis saya dengan menulis cerpen. Inget banget sewaktu SMU, saya mulai suka menulis gara-gara teman sebangku pun hobi menulis dan cerpennya pernah dimuat di majalah. Entah kenapa saya merasa tertantang,”Die aje bisa, masa gue kagak?” Secara sejak SMP saya yang kena virus minder stadium lanjut sudah rajin mengisi diari, jadi nggak masalah menulis cerpen.

Mulai deh tuh, saya punya buku khusus cerpen, saya buat cerpen-cerpen, ya… tema-tema remajalah, ada tentang cinta, persahabatan (sstt… buku-bukunya masih ada, kalau baca ngikik sendiri). Cumaaa… belum ada nyali kirim ke media, nggak pede, nggak yakin dimuat. Tapi seneng aja buat cerpen. Teman sebangku saya itulah kritikusnya. Setelah buat beberapa cerpen, bukunya saya pinjami ke dia untuk dibaca dan dinilai. Dia tulis di bawah cerpen-cerpen saya apa saran dan kritiknya.

Kemudian ketika kuliah, vakum! Nggak tau kenapa hasrat menulis buyar, males saja. Hingga ketika lulus kuliah saya menganggur tiga tahun!!! Yup… nggak salah baca, tiga tahun, nggak dapat-dapat kerja, kalaupun mau dapat harus buka jilbab. Nah, di sana saya mulai aktif menulis dan bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena) Jakarta, malah jadi pengurus. Akibatnya jadi banyak kenal penulis senior dan disemangati untuk mengirim karya.

Ditolak? pasteeee… tapi ya kirim lagi. Begitu dimuat, whuaaa syeneeengg dan dapat honor boooo. Waktu itu masih cerpen-cerpen Islami, makanya saya kirim ke media Islami dan pernah dimuat di Majalah Sabili, Majalah Noor, Majalah Muslimah, Tabloid Fikri, Majalah Paras, dan  Majalah Annida.

Dari cerpen, saya merambah ke novel, masih cerita fiksi. Karena menulis fiksi lebih bebas berimajinasi. Dulu, nggak kebayang saya bisa menulis cerita panjang-panjang, lah, bikin cerpen saja rasanya sudah mumet, nulis apa lagi yak? He he… eh, begitu sudah biasa nulis panjang, sempet kelimpungan membuat cerpen, karena maunya lanjutttt aja tuh cerita.

Cerpen yang paling mengesankan tuh “Ketika Tugu Monas Ambruk” hihihi, terinspirasi dari teman penulis Novia Syahidah yang asal ngomong tentang ide cerpen waktu acara kumpul-kumpul FLP Jakarta. Sampai rumah saya malah penasaran dan buat cerita, apa yang terjadi ya kalau tugu monas ambruk? yang pasti orang-orang bakalan heboh mencari emas (konon katanya kan ‘api’ di pucuk tugu monas itu emas) yang tenggelam di antara puing-puing. Jadi kehebohan itulah yang saya gambarkan. Dimuat di Majalah Sabili dan terpilih juga masuk dalam buku kumpulan cerpen “Kupu-Kupu dan Tambuli” keluaran Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006, bersama penulis-penulis Depok (waktu itu saya sudah pindah rumah ke Depok dan bergabung di FLP Depok)

So, kalau mau menulis tapi bingung dari mana mulainya, cobalah membuat cerpen dulu, mainkan imajinasimu!

Apa Syarat Menjadi Penulis?

“Gue pengen jadi penulis, neh, bisa nggak ya?”

“Pengen nulis, tapi… susah cari waktunya… kerjaan padat merayap booo.”

“Gimana sih jadi penulis? kalau tulisan saya masih jelek apa mungkin?”

Dan segudang pertanyaan lainnya tentang syarat menjadi penulis.

Well, jadi ingat waktu saya SMU dulu dan ikut homestay selama tiga minggu ke Oztralee, ketika di kelas, Mrs. Erin, guru saya pernah bertanya kepada semua muridnya, “What do you wanna be?”  waktu itu semua mikir, tak terkecuali saya. Maklum aja, namanya juga masih SMU, masa-masa mencari jatidiri, belum tahu secara pasti apa cita-citanya, apalagi sistem pendidikan kita kan umum banget, walau ada penjuruan A1-A4, lah yang insinyur aja nyasar jadi PR.

Waktu itu saya pun berpikir keras, mau jadi apaan yak, pikir punya pikir, saya cuma ingat kalau enjoy banget nulis diari. Maklum, dulu saya terserang virus minder stadium lanjut, jadi teman curcol saya ya diari. Selain itu, saya pun demen korenpondensi. Zaman e-mail belum ada sudah punya sahabat pena dari dalam dan luar negeri, kalau kirim surat bisa berlembar-lembar. Record sih… pernah sampai 17 lembar nulis surat!!! Ouuch.

Akhirnya saya bilang aja, “I wanna be an author!

Eh, kesampaian hehehe. Belasan tahun kemudian waktu  nguyek-nguyek jurnal ke Australia itu (eiittss tiap hari di sana saya menulis jurnal, sampai Jakarta saya ketik dan dibundel jadi buku), kaget juga ketika membaca adegan tersebut.

Jadi, apa syarat jadi penulis? Nggak susah… pertanyaannya,”Suka menulis, nggak?”, “Cinta menulis, nggak?” singkatnye sih… “Apakah menulis merupakan passionmu?”

Karena kalau sudah suka dan cinta, apa pun halangannya kan tetap dijabanin. Ya, nggak? Sibuk dengan kegiatan sekolah, les ini-itu, atau seabrek tugas dari dosen, atau lembur melulu di kantor? Itu bukan alasan. Kalau sudah suka dan cinta, biarpun hanya 10 menit sehari, atau satu jam seminggu, pasti akan meluangkan waktu untuk menulis!

Nah, kalau nggak suka dan cinta… itu namanya masih coba-coba. Ya, nggak apa sih? kali dari coba-coba jadi suka dan cinta, lalu ketagihan menulis.

Jadi, syarat menjadi penulis mah nggak susah, ya nulis waeee… cuma, kalau mau dijadikan profesi ya kudu sabar. Saya juga dulu beberapa kali ditolak media, cerpen-cerpen saya pun mental, nggak dimuat, tetapi saya kirim terus, dan Alhamdulillah lolos juga. Ditolak penerbit pun juga pernah. Malah ada salah satu novel saya yang sudah melewati empat penerbit, nggak lolos semua, kemudian malah diterbitkan Mizan, eh… diterjemahkan dalam Bahasa Melayu pula dan terbit di Malaysia.

Mau jadi penulis? Sok atuh, mulai nulis sekarang!!!

Sumber gambar: http://kosmo.vivanews.com/news/read/155889-12_profesi_teraneh_di_dunia

Previous Older Entries

Categories

tweets

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.