Mulailah dari Cerpen

Dulu saya mengawali karier menulis saya dengan menulis cerpen. Inget banget sewaktu SMU, saya mulai suka menulis gara-gara teman sebangku pun hobi menulis dan cerpennya pernah dimuat di majalah. Entah kenapa saya merasa tertantang,”Die aje bisa, masa gue kagak?” Secara sejak SMP saya yang kena virus minder stadium lanjut sudah rajin mengisi diari, jadi nggak masalah menulis cerpen.

Mulai deh tuh, saya punya buku khusus cerpen, saya buat cerpen-cerpen, ya… tema-tema remajalah, ada tentang cinta, persahabatan (sstt… buku-bukunya masih ada, kalau baca ngikik sendiri). Cumaaa… belum ada nyali kirim ke media, nggak pede, nggak yakin dimuat. Tapi seneng aja buat cerpen. Teman sebangku saya itulah kritikusnya. Setelah buat beberapa cerpen, bukunya saya pinjami ke dia untuk dibaca dan dinilai. Dia tulis di bawah cerpen-cerpen saya apa saran dan kritiknya.

Kemudian ketika kuliah, vakum! Nggak tau kenapa hasrat menulis buyar, males saja. Hingga ketika lulus kuliah saya menganggur tiga tahun!!! Yup… nggak salah baca, tiga tahun, nggak dapat-dapat kerja, kalaupun mau dapat harus buka jilbab. Nah, di sana saya mulai aktif menulis dan bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena) Jakarta, malah jadi pengurus. Akibatnya jadi banyak kenal penulis senior dan disemangati untuk mengirim karya.

Ditolak? pasteeee… tapi ya kirim lagi. Begitu dimuat, whuaaa syeneeengg dan dapat honor boooo. Waktu itu masih cerpen-cerpen Islami, makanya saya kirim ke media Islami dan pernah dimuat di Majalah Sabili, Majalah Noor, Majalah Muslimah, Tabloid Fikri, Majalah Paras, dan  Majalah Annida.

Dari cerpen, saya merambah ke novel, masih cerita fiksi. Karena menulis fiksi lebih bebas berimajinasi. Dulu, nggak kebayang saya bisa menulis cerita panjang-panjang, lah, bikin cerpen saja rasanya sudah mumet, nulis apa lagi yak? He he… eh, begitu sudah biasa nulis panjang, sempet kelimpungan membuat cerpen, karena maunya lanjutttt aja tuh cerita.

Cerpen yang paling mengesankan tuh “Ketika Tugu Monas Ambruk” hihihi, terinspirasi dari teman penulis Novia Syahidah yang asal ngomong tentang ide cerpen waktu acara kumpul-kumpul FLP Jakarta. Sampai rumah saya malah penasaran dan buat cerita, apa yang terjadi ya kalau tugu monas ambruk? yang pasti orang-orang bakalan heboh mencari emas (konon katanya kan ‘api’ di pucuk tugu monas itu emas) yang tenggelam di antara puing-puing. Jadi kehebohan itulah yang saya gambarkan. Dimuat di Majalah Sabili dan terpilih juga masuk dalam buku kumpulan cerpen “Kupu-Kupu dan Tambuli” keluaran Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006, bersama penulis-penulis Depok (waktu itu saya sudah pindah rumah ke Depok dan bergabung di FLP Depok)

So, kalau mau menulis tapi bingung dari mana mulainya, cobalah membuat cerpen dulu, mainkan imajinasimu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

tweets

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: