Mengapa Ditolak?

Memang sakit ditolak. Rasanya dunia berhenti berputar dan diri nelangsa kuadrat. Lebayyy deh reaksi kita kala ditolak media atau penerbit. Lebih parah lagi jadi putus asa dan nggak mau menulis lagi, alias stop sampai di situ. Pernah ngalamin? Saya pernah! hehehe.

Ya pernahlah merasa nggak berbakat menulis begitu cerpen saya ditolak media. Cuma karena waktu itu saya bergabung dengan FLP (Forum Lingkar Pena) Jakarta, saya sering disemangatin penulis-penulis senior, di antaranya Teh Pipiet Senja. Huaaa beliau motivator saya banget. Ketika saya curhat karya saya ditolak aja, dia bilang,”Cemen ah, baru ditolak juga.” jleb!

Akhirnya saya termotivasi lagi dan mengirim lagi karya-karya saya ke media. Beberapa editor penerbit mengatakan, mereka lebih leluasa menyampaikan penolakan kepada penulis besar, ketimbang penulis pemula. Sebab, penulis besar kalau ditolak, menanggapinya dengan santai, kalau penulis pemula bisa down dan drop banget semangatnya.

Siapa bilang penulis besar atau yang sudah punya ‘nama’ nggak pernah ditolak? pernah lagi. Dan, perlu diketahui, ditolak belum berarti karyamu buruk, tapi bisa jadi iya, hehe. Maksudnya, penolakan bisa karena beberapa faktor:

1. Memang karyanya belum layak terbit, ini bisa diakibatkan beberapa hal, ceritanya basi/klise, cara penulisannya masih amburadul, sehingga bikin males editor baca, cerita nggak fokus, dan masalah teknis lainnya.

2. Karyanya bagus tetapi melawan selera pasar. Nah, kalau ini tergantung penerbitnya, apakah berani mengambil resiko atau tidak. Sebab, bisa jadi malah meledak di pasaran karena karya tersebut berbeda.

3. Tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit. Misalnya saja mengirim cerita Islami ke penerbit yang fokus pada karya umum, jelas tidak masuk prioritas mereka. Itu sebabnya sebelum mengirimkan karya ke media atau penerbit, selidiki dulu media/penerbit yang bersangkutan, seperti apa naskah-naskah yang diterima mereka.

4. Mengandung hal berbau pornografi dan SARA. ini sebenarnya tergantung penerbitnya juga. Ada penerbit yang mau menerbitkan naskah yang rada vulgar, tetapi kalau SARA mungkin harus berhati-hati, kecuali memang sengaja menarik perhatian (biar laku), namun harus berani menanggung resikonya.

5. Waktunya tidak pas. Misalnya kamu mengirim naskah berbau valentine pada bulan April, jelas sudah tidak aktual. Kecuali penerbit/media tersebut mau menundanya hingga Februari tahun mendatang. Tetapi ini pun beresiko, naskah tersebut isinya sudah tidak up to date.

Nah, jelas ya beberapa alasan media/penerbit menolak karyamu. Jangan putus asa. JK Rowling sebelum booming dengan Harry Potternya sudah ditolak banyak penerbit, tepi lihat sekarang kayak apa?

Maka, sebelum mengirim naskah, sebaiknya perhatikan teknis penulisan. Jangan sampai editor/redaksi sudah malas duluan membacanya. Contoh, waktu saya menjadi redaktur majalah dan menerima naskah-naskah fiksi, masih banyak yang mengirim tanpa dijilid atau steples. Bacanya saja sudah ngeri berceceran itu naskah, dan merepotkan sekali kalau harus kita yang steples. Pliss deh cyynnn….

Untuk pedoman mengirim naskah ke media/penerbit akan saya bahas dalam tulisan lain, nanti. So, ditolak? sante aje… kirim lagi.

sumber gambar:http://1.bp.blogspot.com/-sb7V30sfw4Q/Tb_8cqfxYHI/AAAAAAAAAQs/Mtgfr-Vjvyk/s1600/bnb.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

tweets

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: