Peluruhan Ego Sang Ghost Writer

Namanya juga Ghost Writer (GW), artinya kita membantu menuliskan buku bagi orang lain. Alasannya macam-macam, mungkin karena dia sibuk dan nggak punya waktu menulis, malas repot, atau memang tidak bisa menulis. Nah, lahan rezeki, kan?

Sebetulnya saya sendiri nggak sengaja terjun menjadi GW atau Co. Writer ini. Kenapa saya lebih suka mengartikannya sebagai Co. Writer? sebab, si narasumber tetap memiliki peran penting. Tugas GW kan hanya menuliskan dan menambahkan referensi apabila diperlukan, sementara bahan utama tetap dari si narasumber.

Tahapannya tuh biasanya:

1. Meeting dengan penerbit atau narasumber langsung. Pokoke yang menyerahkan job tersebut. Dibicarakan naskah apa yang mau ditulis, tentang apa, bagaimana konsep dan draftnya.

2. Pengumpulan material/bahan tulisan. Ini bisa dengan wawancara langsung dengan narasumber utama dan narasumber tambahan, misalnya waktu saya membantu buat buku bertema lingkungan hidup, saya wawancara via telepon dengan Nugie dan mantan penyanyi cilik Tasya. Lalu selain wawancara bisa tanya-tanya Mbah Google atau literatur buku.

3. Penyusunan naskah/buku, sesuai draft yang ditentukan. Ikuti alur yang ditetapkan penerbit atau narasumber.

4. Tahap revisi. Setelah jadi, GW menyerahkan naskah dan diperiksa. Apabila masih ada ketidaksesuaian yang revisi. Dalam masa ini biasanya frekuensi pertemuan GW dengan narasumber bisa besar porsinya. Nongkrong di rumahnya, atau ngafe bareng, bahkan saya pernah bekerja di ruang opname rumah sakit karena narasumber saya sakit, namun semangatnya pantang padam. Tapi pernah juga narasumber saya dari luar kota, komunikasi kami hanya via telepon dan e-mail, Alhamdulillah lancar jaya.

5. Editing. GW juga perlu melakukan ini, meskipun nantinya penerbit lebih mendominasi.

Nah, yang jelas sih, sebagai GW kita emang nggak boleh ego atau idealis. Kalau nggak suka dengan topiknya atau nggak sesuai dengan nurani, tolak aja dari awal, ketimbang mengerjakannya dengan tertekan. Kalau masalah penguasaan bahan, itu bisa dipelajari. Tapi tentunya menyesuaikan juga dengan kemampuan dan wawasan GW. Kalau merasa ketinggian materialnya, yah lebih baik menolak, ketimbang hasilnya nggak maksimal.

Karena GW tugasnya membantu menuliskan, dia harus patuh pada prosedur dari penerbit dan narasumber. Tetapi pengalaman saya, mereka biasanya open terhadap masukan dan ide dari saya. Adanya jadi saling kombinasi. Tetapi tetaaaap, toleransi seorang GW harus tinggi andaikata idenya ditolak atau hanya diterima sebagaian. Maklum aja kan bukan buku sendiri. ya toh? Nggak seru juga kan kalau GW jadi adu ngotot dengan narasumber, hehehe…

Dan yang paling penting, komunikasi seorang GW dengan narasumber atau penerbit harus insten. Kalau narasumber mudah dihubungi sih enak, walaupun sibuk, dia selalu balas SMS kita dan kasih keterangan. Saya pernah hampir bekerja sama dengan seorang presenter TV top,  namun sayang sulit diajak berkomunikasi. SMS, telp, BBM, bakan twitter hampir nggak pernah balas. Diajak ketemuan saja sulitnya minta ampun, niat nggak sih buat buku hehehe. Proyek itu sampai menggantung setahun, begitu lanjut, teteuupp tidak ada kejelasan, ya wis… belom rezeki.

Nggak hanya GW, sebagai editor content, juga harus saling menyesuaikan. Saya sampai nginap-nginap tempat klien demi kelancaran pekerjaan, pernah juga diajak ke villanya di Cianjur, waktu itu oleh Bu Emmylia Hannig, sekarang beliau mengikuti tugas suaminya (berkebangsaan Jerman) yang pindah-pindah di LN, asyiknyaaa…

sumber gambar:http://www.roughcutreviews.com/news_story.php?id=580&title=German+poster+for+’The+Ghost+Writer’+starring+Ewan+McGregor

Advertisements

Awal Mula Menjadi Editor

Dahulu kalaaaa, waktu saya masih jadi penulis, pernah berandai-andai, kayak apa yah rasanya jadi editor. Eh… kesampaian. Ceritanya suatu ketika saya kirim naskah novel ke Mizan Group (Hikmah Publishing). Naskah itu sudah melewati 4 penerbit dan belum rezeki terbit. Waktu itu saya idealis, ada penerbit yang bilang konfliknya kurang tajam, secaraaa emang itu novel ringan, tentang seorang tante dengan delapan keponakan (kebayang hebohnya), tapi ada nilai-nilai entrepreneurship, relationship, dan love di sana *ciyeee*

Singkat cerita, saya kirim ke Hikmah eh, lolos. Malah sejak itu saya jadi editor freelance mereka. Khususnya merombak naskah ya, jadi istilah kwerennya sih “Editor Content”. Waktu itu editor senior Hikmah bilang, kelebihan novel saya itu adalah meramu dialog banyak tokoh dengan ciamik *hem*, lalu ada beberapa novel yang saya edit, diperbaiki gaya bahasanya, dialognya, dan sebagainya. Malah salah satunya kepilih disinetronkan. Tokoh itu awalnya tak berjilbab, sampai dijilbabin, lumayan ribet juga hihi.

Sejak itu saya suiiiibuk menjadi editor content, naskah fiksi dan nonfiksi. Bahkan merambah mengedit naskah penulis-penulis yang ingin menerbitkan sendiri buku mereka (indie publishing), bahkan buku untuk hadiah ultah perkawinan.

That’s why salah satu alasan saya mendirikan LK’s (elkeys) Creative Studio ini, untuk merangkul pula teman-teman yang berbakat bersatu padu menjadi tim yang solid, Insya Allah.


sumber gambar:http://wulanwahyuning.blogspot.com/2010/10/edit-naskah.html

Susahkah Jadi Reporter?

Asal kamu suka! Kenapa saya katakan demikian? Sebab, kalau sudah suka, maka apa pun tantangannya akan ditempuh. Apa pun masalahnya, akan dicarikan solusi. Sekarang, susahnya di mana? Bahan wawancara? sok atuh kuasai dulu latar belakang masalahnya. Dalam setiap rapat redaksi akan dibahas topik apa yang akan dimuat di edisi mendatang, lalu ditentukan siapa tokoh yang diwawancara dan menugaskan reporter untuk mewawancarainya.

Misalnya sudah dapat di tangan, harus wawancara tokoh A . Tentu saja harus mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Paling tidak ketika wawancara, kita sudah tahu latar belakang  tokoh A, jadi sudah tahu mau bertanya apa. Sebelum wawancara buatlah poin-poinnya, apa yang akan ditanyakan, nanti di lapangan tinggal mengembangkan.

Demikian pula bila mendapatkan tugas untuk wawancara soal go green, riset dulu soal perkembangan go green saat ini, supaya pas wawancara nggak cengok dan bengong.

Tetapi saya pernah menjadi reporter sebuah majalah yang bergerak di bidang energi. Kebayang nggak sih, kuliah jurusan Hubungan Masyarakat, nggak nyambung sama sekali dengan persoalan minyak, gas, konstruksi, lepas pantai. Hadoooh… awalnya ya ragu, tetapi mereka percaya saya, kok ya saya nggak percaya diri? Masalah bahan kan bisa didalami seraya riset. Kenapa ya, mereka mau merekrut saya, bukannya mereka yang berlatar belakang teknik misalnya? sebab, mereka kesulitan mencari orang yang bisa wawancara dan menulis! So, how lucky I am punya skill itu!

Setiap akan wawancara perut saya mules hihihi, bagaimana nggak? sudah topiknya berat, yang diwawancara pun big bossbig boss perusahaan multinasional, yang super suibukkk dan seolah waktu hanya milik mereka. Karena bisa setiap saat mereka nggak ada di tempat, atau sudah ada planning ke Amerika, dan sebagainya.

Deg-degan lah, takut ketawan bloonnya. Makanya sebelum wawancara saya pelajari tuh topiknya, cari bahannya, minta sama redaksi atau cari di internet. Misalnya tentang gas, nuklir, minyak, pengadaan barang (procurement), huaaa topik-topik yang nggak pernah saya sentuh. Tapi… Alhamdulillah lancar tuh. Dan, saya memilih jujur, apa adanya, kalau nggak ngerti bilang nggak ngerti, nggak mau sok tahu. Malah dapat simpati, kapan lagi bos-bos gede itu presentasi di depan saya? hihihi… demi saya menguasai bahan dan bisa wawancara dengan lancar.

Paling susahnya jadi reporter di Jakarta nih apa? Maceeettt boww… itu aja yang nggak nahanin. Apalagi kalau sudah melintasi kawasan Mampang, Buncit, motor saja berhenti!

Selain itu sih, nggak ada yang susah karena semua bisa dipelajari, asal mau dan tekun. Dan sepertinya profesi reporter ini termasuk profesi yang cukup membanggakan ya, entah kenapa dari dulu kalau saya kenalan sama orang dan menyebut diri saya itu seorang reporter, kebanyakan berdecak kagum. Jadi, kenapa ragu-ragu untuk menjadi seorang reporter?

Sumber gambar: http://rezarh.wordpress.com/category/reporter/

Mulailah dari Cerpen

Dulu saya mengawali karier menulis saya dengan menulis cerpen. Inget banget sewaktu SMU, saya mulai suka menulis gara-gara teman sebangku pun hobi menulis dan cerpennya pernah dimuat di majalah. Entah kenapa saya merasa tertantang,”Die aje bisa, masa gue kagak?” Secara sejak SMP saya yang kena virus minder stadium lanjut sudah rajin mengisi diari, jadi nggak masalah menulis cerpen.

Mulai deh tuh, saya punya buku khusus cerpen, saya buat cerpen-cerpen, ya… tema-tema remajalah, ada tentang cinta, persahabatan (sstt… buku-bukunya masih ada, kalau baca ngikik sendiri). Cumaaa… belum ada nyali kirim ke media, nggak pede, nggak yakin dimuat. Tapi seneng aja buat cerpen. Teman sebangku saya itulah kritikusnya. Setelah buat beberapa cerpen, bukunya saya pinjami ke dia untuk dibaca dan dinilai. Dia tulis di bawah cerpen-cerpen saya apa saran dan kritiknya.

Kemudian ketika kuliah, vakum! Nggak tau kenapa hasrat menulis buyar, males saja. Hingga ketika lulus kuliah saya menganggur tiga tahun!!! Yup… nggak salah baca, tiga tahun, nggak dapat-dapat kerja, kalaupun mau dapat harus buka jilbab. Nah, di sana saya mulai aktif menulis dan bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena) Jakarta, malah jadi pengurus. Akibatnya jadi banyak kenal penulis senior dan disemangati untuk mengirim karya.

Ditolak? pasteeee… tapi ya kirim lagi. Begitu dimuat, whuaaa syeneeengg dan dapat honor boooo. Waktu itu masih cerpen-cerpen Islami, makanya saya kirim ke media Islami dan pernah dimuat di Majalah Sabili, Majalah Noor, Majalah Muslimah, Tabloid Fikri, Majalah Paras, dan  Majalah Annida.

Dari cerpen, saya merambah ke novel, masih cerita fiksi. Karena menulis fiksi lebih bebas berimajinasi. Dulu, nggak kebayang saya bisa menulis cerita panjang-panjang, lah, bikin cerpen saja rasanya sudah mumet, nulis apa lagi yak? He he… eh, begitu sudah biasa nulis panjang, sempet kelimpungan membuat cerpen, karena maunya lanjutttt aja tuh cerita.

Cerpen yang paling mengesankan tuh “Ketika Tugu Monas Ambruk” hihihi, terinspirasi dari teman penulis Novia Syahidah yang asal ngomong tentang ide cerpen waktu acara kumpul-kumpul FLP Jakarta. Sampai rumah saya malah penasaran dan buat cerita, apa yang terjadi ya kalau tugu monas ambruk? yang pasti orang-orang bakalan heboh mencari emas (konon katanya kan ‘api’ di pucuk tugu monas itu emas) yang tenggelam di antara puing-puing. Jadi kehebohan itulah yang saya gambarkan. Dimuat di Majalah Sabili dan terpilih juga masuk dalam buku kumpulan cerpen “Kupu-Kupu dan Tambuli” keluaran Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006, bersama penulis-penulis Depok (waktu itu saya sudah pindah rumah ke Depok dan bergabung di FLP Depok)

So, kalau mau menulis tapi bingung dari mana mulainya, cobalah membuat cerpen dulu, mainkan imajinasimu!

Categories

tweets

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.