ONLINE WRITING CLASS

Finally, yang dinanti-nanti tiba. Saya membuka kelas menulis online!!!
Sistem belajarnya dengan menyetorkan karya (fiksi/nonfiksi/jurnalistik, sesuai minat dan kebutuhan) kemudian saya bedah.
Selain itu ada chat (YM/whats app) dan konsultasi via telepon dengan durasi satu jam seminggu sekali atau dua kali (tergantung paketnya)

Yang berminat, silahkan e-mail saya di laura.pro76@gmail.com nanti saya jabarkan keterangan lebih lanjut sistem dan paketnya.

Ditunggu ya, terima kasih.

Mengapa Ditolak?

Memang sakit ditolak. Rasanya dunia berhenti berputar dan diri nelangsa kuadrat. Lebayyy deh reaksi kita kala ditolak media atau penerbit. Lebih parah lagi jadi putus asa dan nggak mau menulis lagi, alias stop sampai di situ. Pernah ngalamin? Saya pernah! hehehe.

Ya pernahlah merasa nggak berbakat menulis begitu cerpen saya ditolak media. Cuma karena waktu itu saya bergabung dengan FLP (Forum Lingkar Pena) Jakarta, saya sering disemangatin penulis-penulis senior, di antaranya Teh Pipiet Senja. Huaaa beliau motivator saya banget. Ketika saya curhat karya saya ditolak aja, dia bilang,”Cemen ah, baru ditolak juga.” jleb!

Akhirnya saya termotivasi lagi dan mengirim lagi karya-karya saya ke media. Beberapa editor penerbit mengatakan, mereka lebih leluasa menyampaikan penolakan kepada penulis besar, ketimbang penulis pemula. Sebab, penulis besar kalau ditolak, menanggapinya dengan santai, kalau penulis pemula bisa down dan drop banget semangatnya.

Siapa bilang penulis besar atau yang sudah punya ‘nama’ nggak pernah ditolak? pernah lagi. Dan, perlu diketahui, ditolak belum berarti karyamu buruk, tapi bisa jadi iya, hehe. Maksudnya, penolakan bisa karena beberapa faktor:

1. Memang karyanya belum layak terbit, ini bisa diakibatkan beberapa hal, ceritanya basi/klise, cara penulisannya masih amburadul, sehingga bikin males editor baca, cerita nggak fokus, dan masalah teknis lainnya.

2. Karyanya bagus tetapi melawan selera pasar. Nah, kalau ini tergantung penerbitnya, apakah berani mengambil resiko atau tidak. Sebab, bisa jadi malah meledak di pasaran karena karya tersebut berbeda.

3. Tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit. Misalnya saja mengirim cerita Islami ke penerbit yang fokus pada karya umum, jelas tidak masuk prioritas mereka. Itu sebabnya sebelum mengirimkan karya ke media atau penerbit, selidiki dulu media/penerbit yang bersangkutan, seperti apa naskah-naskah yang diterima mereka.

4. Mengandung hal berbau pornografi dan SARA. ini sebenarnya tergantung penerbitnya juga. Ada penerbit yang mau menerbitkan naskah yang rada vulgar, tetapi kalau SARA mungkin harus berhati-hati, kecuali memang sengaja menarik perhatian (biar laku), namun harus berani menanggung resikonya.

5. Waktunya tidak pas. Misalnya kamu mengirim naskah berbau valentine pada bulan April, jelas sudah tidak aktual. Kecuali penerbit/media tersebut mau menundanya hingga Februari tahun mendatang. Tetapi ini pun beresiko, naskah tersebut isinya sudah tidak up to date.

Nah, jelas ya beberapa alasan media/penerbit menolak karyamu. Jangan putus asa. JK Rowling sebelum booming dengan Harry Potternya sudah ditolak banyak penerbit, tepi lihat sekarang kayak apa?

Maka, sebelum mengirim naskah, sebaiknya perhatikan teknis penulisan. Jangan sampai editor/redaksi sudah malas duluan membacanya. Contoh, waktu saya menjadi redaktur majalah dan menerima naskah-naskah fiksi, masih banyak yang mengirim tanpa dijilid atau steples. Bacanya saja sudah ngeri berceceran itu naskah, dan merepotkan sekali kalau harus kita yang steples. Pliss deh cyynnn….

Untuk pedoman mengirim naskah ke media/penerbit akan saya bahas dalam tulisan lain, nanti. So, ditolak? sante aje… kirim lagi.

sumber gambar:http://1.bp.blogspot.com/-sb7V30sfw4Q/Tb_8cqfxYHI/AAAAAAAAAQs/Mtgfr-Vjvyk/s1600/bnb.jpg

Mengatasi Kemacetan Menulis

 

 

Bukan hanya lalu lintas saja yang bisa macet, menulis pun bisa! bisa banget!!!

Nggak hanya penulis pemula, yang sudah senior pun kerap mengalami kemandegan atau kemacetan dalam menulis. Wajar lah ya, apalagi kalau kesehariannya berkutat depan laptoooopp aja. Bahkan melihat laptop rasanya sudah mual, saking enegnya, ingat kerjaan. Nah… ini mah kalau UUD (ujung-ujungnya duit) pasti bakalan ngalamin ini hihihi *pengalaman pribadiiih, hem*.

Tetapi kalau menulis merupakan passionmu dan tetaaap diupayakan menulis dengan cintaaaah, Insya Allah nggak eneg melihat laptop.

Wokeh, sekarang kembali ke laptoop, eh maksudnya ke topik semula. Bagaimana kalau mengalami kemacetan menulis? Sebelumnya, saya jabarkan dulu penyebab kemacetan dalam menulis:

1. Nggak menguasai bahan tulisan dan malas riset

2. Ada masalah pribadi dan belum bisa bersikap profesional (memisahkan masalah dengan pekerjaan)

3. BIG M alias malaasss buangeeet deh

Biasanya sih itulah penyebab utama kemacetan dalam menulsi. Nah, sekarang bagaimana mengatasinya? sok atuh simak lagi:

1. Kalau memang belum menguasai bahan tulisan atau kurang bahan, ya mau nggak mau riset atuh. Zaman sekarang serba   canggih gitu loh, nggak harus beli literatur tapi bisa pinjam buku, internet, atau wawancara orang yang lebih tahu. Contoh, ketika saya membuat novel dengan setting di Prancis, so pasti harus ada spiking-spiking prancisnya atuh, biar nggak sekadar setting tempelan. Walaupun saya pernah kursus di CCF setahun, sudah ke laut itu Bahasa Prancis. Akhirnya saya e-mail teman Indonesia yang menikah dengan orang Prancis dan tinggal di Paris, saya minta tolong dia menerjemahkan beberapa dialog yang saya tulis dalam Bahasa Indonesia ke Bahasa Prancis.

2. Kalau memang ada masalah, coba diselesaikan dulu masalahnya, supaya tidak menganggu pekerjaan. Atau cari cara untuk bisa memisahkan masalahmu dengan pekerjaan. Ini mungkin caranya bisa beda-beda tiap orang ya, mungkin ada yang butuh refreshing sejenak, liburan untuk merefreshkan pikiran, mungkin kudu curhat sama seseorang, atau katarsis dulu gih, biar enakan. Kalau yang dibuat buku sendiri sih ya tanggung jawab sendiri ya, kalau nggak memenuhi deadline. Tapi kalau sudah masuk lahan industri, huwayooo inilah tantangannya untuk kita bersikap profesional!

3. Hmmpphh… untuk BIG M ini, yaaaa… sebenarnya sih ini alasan saja! Hayooo kamu bisa kok memotivasi dirimu untuk bangkit, Kalau nggak bisa yaaa.. resiko tanggung sendiri.

4. Untuk merefreshkan pikiran, saya bertanya dulu pada diri sendiri, apa sih yang buat mandeg? oohh ternyata saya nggak percaya diri dengan gaya bahasa yang biasa saya gunakan, trus pengen tahu apa ya tren gaya penulisan sekarang? ya wis… saya ke toko buku, beli beberapa novel (kalau lagi menggarap proyek fiksi atau bergaya novel) dan baca-baca deh. Belinya karya penulis best seller atau yang jadi sorotan, supaya tahu kelebihannya.

5. Memang pekerjaan kreatif seperti menulis ini dipengaruhi mood. Tetapi ada kalanya kita nggak boleh kalah sama si mood yang suka sembarangan datang dan pergi. Pada saat kita sudah terjun ke lahan industri dan ditenggat deadline, mau nggak mau, kita harus bisa menyeret mood kembali datang.

Bagaimana? semoga bermanfaat dan bisa mengatasi kemacetanmu dalam menulis ya. Good luck!

Cara Mudah Menulis

Nggak sekali dua kali, sering deh, saya mendapati pertanyaan serupa,”Bagaimana sih caranya nulis?” melalui inbox facebook saya. Kalau sudah mendapatkan pertanyaan itu, awalnya saya garuk-garuk kepala dulu. Bagaimana ya, pengalaman saya selama ini kalau menulis mah, nulis aja. Hajar bleh! Nggak pakai teori-teorian segala macam. Tetap siii, baca-baca buku tentang menulis, tapi ketika saya mulai menulis, lupakan semua teori itu. Karena ketika menulis, lalu sedikit-sedikit ingat teori, yang ada menulisnya kejeduk-jeduk, alias nggak lancar, alias mandeg, karena takut salah.

Nah, itu dia kata kuncinya. Kenapa orang merasa susah untuk menulis? Karena mereka takut salah! Karena sudah takut duluan, nggak kelar-kelar deh itu tulisan. Kalau ala jadoel neh, inget di film-film, kertas lecek berserakan di lantai, karena baru nulis sekata dua kata, langsung dilecekin kertasnys, dilempar ke lantai atau tong sampah. Kalau zaman sekarang sih, main delete kali ya hehehe. Secara sudah pakai komputer gitu, loh.

Lantas bagaimana dong, cara mudah menulis? hadooh… masih nanya jugak?! Ya wis, sini saya kasih tips mudah menulis ala saya.

1. Yang jelas niat dulu mau nulis apa. Misalnya mau nulis diari, nulis cerpen, nulis artikel, de el el… segala sesuatu diawali dari niat bukan?

2. Kalau sudah jelas apa yang mau ditulis, tahap selanjutnya ada dua cara nih:

a. Langsung tulis saja yang ada dalam pikiranmu. Nggak usah kebanyakan mikir deh, tulis saja yang kamu tahu dan mau             ditulis

b. Buat kerangka. Mudahnya sih, dibuat dulu poin-poin apa yang ingin ditulis. Nanti tinggal dikembangkan

3. Jangan banyak takut. Maksudnya kalau menulis ya tulis saja, jangan dibatasi dengan segala ketakutan: takut salah, takut         alurnya ngaco, takut tulisannya jelek. Itu semua jangan dipikirin dulu, pokoke nulisss!!!

4. Editing. Nah, ini dia loh alasan saya bilang di poin ketiga tadi, kalau nulis ya nulis aja. Karena setelah selesai menulis kan     ada tahapan editing. Begitu tulisan itu selesai, baca lagi deh dari awal. Di situ baru kita akan menemukan typo atau kesalahan     tulis, memperbaiki alur, membenahi gaya bahasa, EYDnya dibenerin, dan sebagainya. Kalau nggak yakin, bisa minta bantuan     editor profesional (kayak saya hihihi)

5. Minta teman baca tulisanmu. Biar dia bisa memberikan saran dan kritik terhadap hasil karyamu.

Nah… Mudah bukan?

Sumber gambar: https://ealifes.wordpress.com/2011/05/06/tips-menulis-artikel-yang-baik/

Categories

tweets

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.